ALLAH S.W.T SENTIASA MENGAWASI KITA



Allah S.W.T. berfirman (yang bermaksud), ”Sesungguhnya Allah sentiasa mengawasi kamu.” (QS. An Nisaa’ [4] : 1)

Rasulullah S.A.W. bersabda, ”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Kalau engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia selalu melihatmu.” (HR. Muslim)

Abu Sulaiman rahimahullah mengatakan, ”Sesungguhnya orang yang benar-benar rugi itu adalah orang yang menampak-nampakkan amal kebaikannya di hadapan orang ramai sementara dia justru berterus terang berbuat kejelekan tatkala menyendiri dengan Dzat Yang lebih dekat dengan dirinya daripada urat nadinya sendiri.” (Jami’ al-‘Ulum, hal. 213)

Pada suatu saat tersebar berita kepada Abu Bakar r.a. tentang pujian orang ramai terhadap dirinya. Maka beliau pun berdoa kepada Allah, ”Ya Allah. Engkau lah yang lebih mengetahui diriku daripada aku sendiri. Dan aku lebih mengetahui diriku daripada mereka. Oleh sebab itu ya Allah, jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka katakan. Dan janganlah Kau siksa aku karena akibat ucapan mereka. Dan ampunilah aku dengan kasih sayang-Mu atas segala sesuatu yang tidak mereka ketahui.” (Kitab az-Zuhd Nu’aim bin Hamad, dinukil dari Ma’alim, hal. 119)

Yahya bin Mu’adz rahimahullah mengatakan, ”Bukanlah orang yang jujur seorang yang mengaku mencintai Allah akan tetapi tidak menjaga aturan dan larangan-larangan-Nya.” (Jami’ al-‘Ulum, hal. 95).

Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, ”Ada tiga perkara yang sulit dilakukan : bersikap dermawan dalam keadaan miskin, bersikap wara’ (berhati-hati dan menjauhi keharaman) ketika bersendirian, dan berterus terang dengan kebenaran di hadapan orang yang menjadi tumpuan harapan dan rasa takut.” (Jami’ al-‘Ulum, hal. 211).

al-Junaid rahimahullah pernah ditanya : apakah yang boleh membantu seseorang agar boleh membantu dirinya untuk senantiasa menundukkan pandangan? Maka beliau menjawab, ”iaitu dengan pengetahuanmu bahawa penglihatan Allah kepada dirimu lebih mendahului daripada pandanganmu kepada sesuatu yang kau lihat.” (Jami’ al-‘Ulum, hal. 212).

Abud Darda’ r.a. mengatakan, ”Hendaknya kamu merasa takut dilaknat oleh hati orang-orang yang beriman dalam keadaan dia tidak sedar. Dia melakukan kemaksiatan kepada Allah tatkala sendirian kemudian Allah pun menanamkan rasa benci kepadanya di dalam hati orang-orang yang beriman.” (Jami’ al-‘Ulum, hal. 213).