HIDUP KITA CUMA 1 1/2 JAM SAHAJA (WAKTU AKHIRAT)



Sabda Rasulullah S.A.W,
"Umur-umur umatku berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. Sangat sedikit antara mereka yang umurnya lebih daripada itu".
(Riwayat Tirmizi).

Oleh sebab itu, secara hitung panjang umur manusia zaman ini adalah 63 tahun (sama seperti umur Nabi Muhammad S.A.W ketika wafat).
Malah jika kita berjaya mencapai usia yang sepanjang itu pun sudah dikira beruntung kerana ramai juga yang telah menemui ajal sebelum mencecah umur 50 tahun pun.

Sekalipun berjaya mencecah usia 63 tahun, tempoh itu masih dikira singkat berbanding jangka masa hidup di akhirat yang kekal abadi (infiniti).
Sebagai perbandingan, Al-Quran ada menyatakan bahawa 1 hari di akhirat adalah sama dengan 1000 tahun di dunia.

Bayangkan......, Ini bererti jika kita berjaya hidup selama 63 tahun, maka itu sama dengan 1 1/2 jam sahaja hidup di akhirat. Sangat singkat.
Rasa yang terlalu singkat ini tidak akan kita rasai hakikatnya di dunia ini, tetapi di akhirat nanti pasti kita akan merasainya.

Allah S.W.T. berfirman (yang bermaksud),
"Dan (ingatlah) masa Tuhan himpunkan mereka (pada hari kiamat kelak), dengan keadaan mereka merasai seolah-olah mereka tidak tinggal di dunia melainkan sekadar satu saat sahaja daripada waktu siang hari. Mereka akan berkenal-kenalan sesama sendiri. Sesungguhnya rugilah orang orang yang telah mendustakan hari menemui Allah untuk menerima balasan, dan yang tidak mendapat petunjuk (ke jalan mencari untung semasa hidup di dunia)". (Surah Yunus, 10:45)

BUKTI KEWUJUDAN ALLAH S.W.T.



Lihatlah alam yang begitu tersusun dan teratur. Mustahil tiada Pengaturnya. Mustahil semuanya berlaku secara kebetulan. Rasional dan logik akal menolak alam ini terjadi dengan sendirinya. Kalimat yang selalu diulang-ulang oleh guru-guru yang mengajar ilmu Tauhid adalah, bukti adanya Allah adalah adanya alam ini.

Penciptaan alam ini begitu sistematik hinggakan planet-planet beredar mengelilingi matahari pada orbitnya dengan jarak yang telah ditentukan. Bumi yang berada pada jarak 149,680,000 kilometer dari matahari misalnya, akan berada paling dekat dengan matahari pada 2 Januari setiap tahun yakni pada jarak 147.1 juta kilometer. Dan berada paling jauh daripada matahari yakni 152.6 juta kilometer pada tarikh 2 Julai.

Bumi tidak akan lebih dekat daripada jarak itu kerana ini akan menyebabkannya panas dan terbakar. Bumi juga tidak akan lebih jauh daripada itu kerana ini akan menyebabkannya sejuk dan membeku. Siapa yang menetapkan jarak ini?
Allahu Akbar. Allah Maha Besar
.

Bukan itu sahaja malah kadar oksigen, nitrogen dan karbon dioksida dalam udara juga tetap. Juga pasang surut air laut, kemunculan komet-komet, gerhana bulan dan matahari serta terbit dan tenggelamnya matahari pun telah terjadual dengan tetap dan tepat. Hingga dengan itu kita boleh membuat jadual masuk waktu solat, bukan sahaja untuk tahun ini juga untuk tahun-tahun yang akan datang.

Apabila matahari muncul, bulan dengan rela berundur. Apabila malam bertandang, siang beransur hilang. Semuanya tunduk kepada satu perintah daripada Tuhan Yang Maha Agong. Bayangkan, betapa besarnya kuasa Allah S.W.T. yang mengatur dan menyusun seluruh alam ini.

Allah S.W.T. berfirman :
"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk -Nya), Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan -Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin -Nya. Allah mengetahui apa apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki -Nya . Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar ". (QS. Al Baqoroh: 255)

MENGAPA HATI KITA KERAS ?


Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan dalam kitabnya Bada’i al-Fawa’id [3/743], “Tatkala mata telah mengalami kekeringan disebabkan tidak pernah menangis karena takut kepada Allah ta’ala, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya keringnya mata itu adalah bersumber dari kerasnya hati. Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.”

Nabi S.A.W. pun berdoa kepada Allah agar terlindung dari hati yang tidak khusyu’, sebagaimana terdapat dalam hadits, “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari hawa nafsu yang tidak pernah merasa kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim [2722]).

Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir r.a, dia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu? Apakah keselamatan itu?”. Maka Nabi menjawab, “Tahanlah lisanmu, hendaknya rumah terasa luas untukmu, dan tangisilah kesalahan-kesalahanmu.”
(HR. Tirmidzi [2406], dia mengatakan; hadits hasan. Hadits ini disahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib [2741]).

Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah mengatakan [al-Bidayah wa an-Nihayah, 10/256], “Segala sesuatu memiliki ciri, sedangkan ciri orang yang dibiarkan binasa adalah tidak mampu menangis karena takut kepada Allah.”

Di antara sebab kerasnya hati adalah :

* Berlebihan dalam berbicara
* Melakukan kemaksiatan atau tidak menunaikan kewajiban
* Terlalu banyak tertawa
* Terlalu banyak makan
* Banyak berbuat dosa
* Berteman dengan orang-orang yang jelek agamanya

Agar hati yang keras menjadi lembut

Disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim di dalam al-Wabil as-Shayyib [hal.99] bahwa suatu ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada Hasan al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id! Aku mengadu kepadamu tentang kerasnya hatiku.” Maka Beliau menjawab, “Lembutkanlah hatimu dengan berzikir.”

Panduan agar hati menjadi lembut dan mudah menangis karena Allah  :

* Mengenal Allah melalui nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya
* Membaca al-Qur’an dan merenungi kandungan maknanya
* Banyak berzikir kepada Allah
* Memperbanyak ketaatan
* Mengingat kematian, menyaksikan orang yang sedang di ambang kematian atau melihat jenazah
* Makanan yang halal
* Menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat
* Sering mendengarkan nasihat
* Mengingat kengerian hari kiamat, sedikitnya bekal kita dan merasa takut kepada Allah
* Menitiskan air mata ketika menziarahi kubur
* Mengambil pelajaran dari kejadian di dunia seperti melihat api lalu teringat akan neraka
* Berdoa
* Memaksa diri agar boleh menangis di kala sendirian

[diringkas dari al-Buka' min Khas-yatillah, hal. 18-33 karya Ihsan bin Muhammad al-'Utaibi]